jump to navigation

SEMUA HARUS ADA DASARNYA!!! April 1, 2013

Posted by planetalaras in Pengalaman Pembelajaran, Seharie-harie.
add a comment

Intinya, kalo ngomong ngga boleh sembarangan. Ngga ada ceritanya kita ngomong seenak udel tanpa bukti ataupun teori. Kita harus bisa bedakan, mana harta karun, mana sampah. Ambil hartanya, buang sampahnya. Demikianlah pelajaran yang dapat saya petik, sekalipun dengan penuh kegondokan (kesebelan…red) dari salah satu profesor saya pada mata kuliah Supervisi dan Evaluasi Pendidikan.

Sang Profesor, sudah menelurkan ratusan buku (empat buku – red) dan meraih gelar profesor pada usia yang terbilang muda (ya ngga muda banget juga sih… – red). Kami mendapat petuah tentang pentingnya data, fakta, dan teori, dalam segala ucapan dan perkataan, melalui pahit getir kuliah yang kami alami bersamanya.

Pernahkan kalian merasa begituuuu tidak tahan dengan guru kalian? Rasanya ingin lari keluar kelas? Yah itulah yang saya alami ketika awal-awal berkuliah bersama Sang Profesor. Pada saat kuliah, lebih baik saya diam!! Be invisible! Daripada malu?

Kata-kata Beliau yang paling khas:

“ITU KATA SIAPA?”

“APA DASARNYA?”

“ANDA NGAMBIL DARI BUKU MANA?”

Sekilas memang bagus. Tapi, percayalah… jawaban sebagus apapun yang Anda balikkan pada pertanyaan tersebut, hanya akan menambah malu Anda. Ngga percaya? Simak yang berikut ini.

Prof       : “Anda menjelaskan seperti itu. Dari buku mana Anda ambil?”

Mhs       : “Dari buku ini prof, Manajemen Pendidikan Sekolah…”

Prof        : “Siapa yang ngarang?”

Mhs        : “yang ngarang XXXXX Prof…”

Prof       : “ Dia tu lulusan mana, pendidikan terakhirnya apa?”

Mhs       : “mmmm… “(sambil ngebolak-balik halaman belakang)

Prof       : “Dia referensinya apa saja sehingga bisa ngomong begitu?”

Mhs       : “eh…..” (lagi-lagi sibuk nyari daftar pustaka)

Prof       : “jangan-jangan yang ngarang malah Cuma S2…”

Mhs       : “…”

Prof       : “ Itu buku terbitan tahun berapa?”

Prof       : “Siapa penerbitnya?”

Prof       : “Dasarnya apa dia ngomong kayak gitu?”

Prof       : “Itu dia nerjemahinnya bener ngga?”

Mhs      : “…”

Mhs       : “…”

Mhs       : “GYAAAAAAAAAHHHHHHHHH” (ngejedot-jedotin kepala ke tembok…)

Di paruh awal semester bersama Sang Prof benar-benar menguji temperamen. Apa-apa salah! Mending gue mancing aja di empang!!!

Tetapiiii setelah mengetahu sifat-sifat Beliau. Kami mulai rileks. Kami sudah tau “senjata” yang dibutuhkan dalam menghadapi Beliau. Dan senjata itu adalah: textbook bahasa asing. Bawalah textbook tersebut! Semakin tebal semakin baik! Sekalipun Anda tidak mengerti sama sekali isinya!

Memang benar, ngga lagi jamannya kita bisa ngomong serampangan tanpa tau dasar teori. Dan juga benar, ngga bisa kita ngambil dasar teori atau ngutip sembarangan dari pengarang yang “katanya si Prof sih pengarang ga jelas yang – cuma -lulusan – S2 – dan – ngga – bisa – basa  – inggris – pula”. Mau ngutip? Mau ambil teori? Ambil langsung dari primary source, sumber primer, dalam hal ini, dari textbook berbahasa asing.

Lewat penderitaan berkepanjangan, kami dibuat mengerti, bahwa kami tu mahasiswa pascasarjana…(bukan pamer loh, di atas langit masih ada langit – red). Ngga ada yang namanya nyablak sembarangan ga pake data atau fakta. Ngga ada ceritanya nulis makalah ga jelas cuma pake bahan dari internet semata. Emang anak SMA? (uuupppss…)

Kesimpulannya? Yahhh ternyata Pak Professor saya memang benar. Aplikasinya? Kita ngga boleh sok tau! Pastikan apa yang kita omongkan, dalam kancah akademik maupun pembelajaran di kelas, adalah benar! Selalu cek kembali pengetahuan yang telah kita miliki…. Jangan sampai kita ngomong sesuatu hanya berdasarkan “persepsi tunggal”, persepsi kita semata.

Contoh:

“Wah, emang orang Indonesia tu ga mau maju”.. eitsss kata siapa?

“Cuma lumut yang bisa tumbuh di kutub utara”…. hmmm sudah cek sumber informasi lain??

“Jadi anak-anak, enakan orde baru daripada sekarang..”… waduuh ini ni namanya persepsi tunggal.

So, in the end. I should admit that my Professor was right, after all. Great lesson coming from him. Dan bagaimana nilai saya dalam mata kuliah Beliau? Yups. An A round. Thank you Sir!

Wassalam

Laras Ratih M.

“Jadi Orang Jangan Jadi Goblok-goblok Banget lah….” March 26, 2013

Posted by planetalaras in Pengalaman Pembelajaran, Seharie-harie.
add a comment

Jakarta, Maret 2013

Kata-kata judul di atas, saya mendengarnya sambil berucap istighfar… dan menuliskannya juga sambil mengucap Istighfar…. Jangan sampai saya sebagai seorang pendidik, mengucapkan kata-kata itu kepada murid-murid saya!

Image(gambar di atas bersumber dari http://2.bp.blogspot.com/_F23RZLl87_c/THviRELEQ4I/AAAAAAAAABg/9euHQSCN3Rg/s320/si_goblok___by_anoekrenz.jpg)

Kata-kata tersebut, disebutkan oleh salah seorang dosen S2 saya ketika sedang mengajar contoh soal hitungan. Mengingat jumlah mahasiswa yang 22 orang, dan yang benar menjawab hanya 2 orang, maka keluarlah kata-kata tersebut dari mulutnya. Wait…jangan berpikir buruk dulu.. Beliau mengucapkannya sambil tertawa, jadi kata-kata tersebut, bukan untuk memarahi, melainkan hanya sebagai ekspresi heran dan geli,

Selanjutnya, Beliau memuji kedua orang yang berhasil menjawab dengan benar tersebut, dan mengatakan bahwa sisanya (20 orang lainnya) adalah hanya sebagai follower…. Pengikut. Diikuti ceramah bahwa sesorang perlu maju selangkah ke depan, jangan mau terus di belakang. “Kalian kan program beasiswa, masa yang seperti ini saja nggak bisa..” dsb, dsb… Apakah saya sakit hati? Yah, bagaimana ya.. soalnya saya termasuk salah satu dari dua orang yang menjawab dengan benar sih, hehehe…

Tapi tentu, segala hal yang saya rasakan kurang berkenan di hati saya, segera saya jadikan pembelajaran, bahwa nanti, ketika saya kembali mengajar, jangan sampai kata-kata tersebut keluar dari mulut saya….

Kawan, ketika saya menerima kuliah lagi, memosisikan diri lagi sebagai murid, memosisikan diri sebagai seseorang yang butuh ilmu (dan tentu saja juga butuh nilai…), memosisikan diri sebagai “bukan yang berkuasa di kelas”… Ini memberi perspektif baru bagi saya. Seakan-akan saya SMA lagi (seakan-akan loh ya..), dan sekali lagi saya mengalami kesenangan, dan kesebalan dalam hal pembelajaran. Ketika saya merasa sebal dengan sesuatu (atau sebaaaaallll banget sama sesuatu), biasanya saya selalu mengingat-ingat: “pernah ngga yah saya berbuat seperti itu ke murid..” seraya berjanji hal tersebut tidak akan, TIDAK AKAN! saya lakukan…. (more…)

Old Ethique of Library March 24, 2013

Posted by planetalaras in Seharie-harie.
Tags:
add a comment

Ini post saya yang lama…

Sunday, November 18, 2007
Laras Ratih Maheswari

Last Wednesday in a very cold classroom, my lecturer educated us the student a few lesson of courtesy. It was just a common behave of the lecturer, and we usually happy to listen to, as we happy to reduce the tension of difficult session for a while. One of the manners he talked about was about how to act in the library. He suggested us to be quiet in the library, since it is the general behave. He even recommended that the librarian in the Faculty of Geography UGM should be more explicit to us, the undergraduate. He judged that this library, in this faculty, was not too far condition from the market, it was so crowded! Then he told us that he has already asked the librarian to make a warning notification all over the library: “NO DISCUSSION IN THE LIBRARY” or probably “NO CONVERSATION IN THE LIBRARY”.

commons.wikimedia.org

Hearing that, somehow I felt that I will be the first person who feels sorry. Oh My God, it is my hobby to chat in the library! I can’t imagine how my life would be if I had to all quiet bulged out my eyes to the book opened in front of me. Surely I’m not chatting in the library with megaphone on my mouth, or laughing loudly until it echoes to all the corners of the room. It was just a normal conversation, such a pleasant activity under the shower of cold-breeze air conditioner. I personally think that the library is the best place to discuss due to it comfortable circumstances (Hey, not every room in my faculty equipped with air conditioner, and Indonesia is a tropical country!).

(more…)

Saat Kenaikan Kelas, Penolong Utamamu adalah Tuhan, yang Kedua adalah Wali Kelas June 17, 2011

Posted by planetalaras in Pengalaman Pembelajaran, Seharie-harie.
add a comment

Fuhhh sudah berapa bulan nih ga post…

Maklum, banyak kesibukan, mulai dari pelatihan, rpot, nilai semester, dan lain sebagainy… Kadang muncul pikiran, bagian terasyik menjadi guru adalah mengajar saja, dan bukan yang lainnya (ex: ngoreksi 300 lembar koreksian, nulis rapot 2 semester untuk 40 anak, ngejar2 anak bandel yang susah ngumpul tugas, dan lain sebagainya…). Or in other word:

Best Part to be a Teacher is Teaching. Evaluating is something else.

Setelah puas dan pegel2 ngoreksi hasil ulangan semester… sekarang saatnya yng paling ditunggu2: PENENTUAN KENAIKAN KELAS.

Dan itu adalah saat tersusah bagi wali kelas. Kenapa? Karena kadang, adaaaa saja anak yang dengan entengnya ngerjakan tugas semau-maunya. Alhasil? Guru yang repot, wali kelas yang malu.

Sebagai gambaran, ada saja anak yang menjelang kenaikan kelas, masih berutang 15 nilai pada 15 guru mata pelajaran. LIMA  BELAS!!! Berapa jumlah pelajarannya? 18 sahajah, atau dengan kata lain dia cuma lulus di tiga pelajaran saja. Pelajaran apa yang kira-kira lulus?? Yah silakan tebak sendiri (yak AnDA BENAR! PKn, Agama Islam, dan Bahasa Arab).

Maka dengan utang sebanyak itu, apa yang bisa dilakukan anak tersebut?

  1. Memohon dengan sangat pada guru yang bersangkutan. (Pak.. Pak.. Bu… Bu… tolong dong Bu..)
  2. Keukeuh nilainya bagus (Ah saya mah udah ngerjain tugas, masa nilainya tetep jelek begini sih!! Salah nilai kali ni..) Ya iya lah ngerjain satu tugas doank bangga, padahal total ada 10 tugas…
  3. Pasrah dan berdoa pada Yang Maha Kuasa… memohon keajaiban…
  4. Cuek Bebek. Ya, benar. CUEK BEBEK.

Bagi para siswa yang menyesal di akhir ini. Bagi para siswa yang memohonkan keajaiban. Bagi siswa yang kecapekan mengejar guru untuk meminta tugas tambahan. Pertolongan Tuhan datang dalam wujud yang pasti: Wali Kelas Anda.
(more…)

Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari January 27, 2011

Posted by planetalaras in Pengalaman Pembelajaran.
5 comments

Assalamu’alaiku wr wb…

Guru, digugu dan ditiru.

Guru pelita harapan bangsa.

Guru pahlawan tanpa tanda jasa.

Tut wuri hadyani.

Dan bla bla bla, blegh blegh blegh, berbagai pujian, julukan, dan idiom serba “mulia” yang disematkan pada guru. Tapi apa benar demikian kebenarannya?

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Lalu, jika sang guru sibuk menonton video porno beramai-ramai di kantor guru, termasuk sang kepsek tercinta, mau jadi apa murid-murid mereka?

Kapan kejadian ini terjadi, yah tentu saja saat heboh kasus ariel-lunmay-cuttari.

Pada masa itu juga banyak sekolah-sekolah merazia hp anak-anak, untuk mencegah keberadaan video porno di tangan mereka.

Sementara saat jam pelajaran para guru sibuk merazia video porno yang “mungkin terselip” di hp murid-muridnya, di luar jam pelajaran, lain lagi ceritanya. Malahan dengan serunya menonton video ariel-lunmay yang kerap dibicarakan di koran-koran tersebut. Sebagian kecil guru menyingkir dengan sangat malu. Sebagian guru yang lain? sibuk menonton, kemudian mengomentari, blue video yang baru mereka tonton.

Nah. Ironis bukan? Apakah mereka, para guru yang saya singgung, menginginkan anak didiknya bermoral baik, sementara mereka sendiri tidak memberikan contoh serupa?

Guru digugu, guru ditiru. Maka, mengapa pula anak-anak harus dijemur di lapangan, atau disuruh berlari keliling lapangan, karena ketahuan merokok di sekolah? Sadarkah bahwa mungkin, hanya mungkin, tindakan mereka adalah bentuk “pemberontakan”, demi melihat sang kepala sekolah, pemimpin tertinggi sekolah, merokok hilir mudik di lobi sekolah, merokok dengan asyik di kantornya yang sejuk? Atau mengapa mereka harus dihukum karena merokok, padahal guru-guru pria di sekolah, dengan sangat jelasnya, merokok di luar ruangan kelas?

Guru boleh merokok di sekolah, tapi murid tidak?

Guru boleh mengoleksi video blue, tapi murid malah dirazia hpnya?

Guru boleh datang terlambat, tapi murid tidak?

Guru boleh makan di sela-sela jam pelajaran, tapi murid cuma boleh makan di saat istirahat?

Banyak guru yang memang pantas digugu dan ditiru. Para guru yang menempuh tiga jam perjalanan, atau mereka yang mendayung sampan, mereka yang bersedia ditempatkan di sekolah terpencil.

Namun, ada juga guru yang seharusnya sadar diri, bahwa peraturan untuk siswa, sepantasnya dijadikan cerminan untuk diri sendiri juga.

Mari, kita berdoa, untuk pendidikan yang lebih cerah ceria.

Ssssttt…. Tempat Terburuk di Sekolah adalah…. December 5, 2010

Posted by planetalaras in Seharie-harie.
Tags:
6 comments

“Seburuk-buruknya tempat di seluruh sekolah adalah kantor guru.”

Bukan saya yang bilang loh, kawan. Pernyataan di atas adalah salah satu petuah dari dosen saya saat saya mengambil suatu mata kuliah untuk pendidikan Akta 4 saya.

Hanya sebait perkataan, yang kemudian membuat seisi kelas tertawa, termasuk saya. Saya menganggapnya bercandaan yang lucu.

(more…)

Toys Story 3: Tontonan Keluarga yang Menghangatkan Hati!!! June 20, 2010

Posted by planetalaras in Review.
2 comments

Baru aja pulang dari Ekalos. Setelah dengan sangat menyesal telah melewatkan Shrek 4 dan Prince of Persia, kesempatan menonton Toys Story 3 di hari kedua penayangannya ga aku lewatkan! Dan dengan tekad menggebu, berdesakan di depan pintu kaca 21 yang belum juga dibuka hingga jam 11 lewat, akhirnya sampai juga dengan selamat 2 buah tiket Toys Story 3 di tanganku. Row paling belakang, well…enjoy….

Whoa! Penuh euy! Itu yang ada di benak ketika memasuki Studio 3. Tak heran memang, di XXI Toys Story yang diputar adalah 3D, dengan harga tiket 50 rebu rupiah. Tak heran para keluarga yang menginginkan hiburan murah meriah lebih memilih berbalik ke 21, menonton film ini tanpa efek 3D, dengan harga tiket yang cukup membuat lega: 15 ribu rupiah saja.

Petualangan Woody, Buzz, dan kawan-kawan kali ini dikemas dengan sangat sangat apik, mengharukan, menegangkan, konyol dan kocak. Bisa dibilang episode ini amat cocok untuk menjadi penutup dari keseluruhan episode Toys Story produksi Pixar-Disney ini: happy ending, happily ever after.

Petualangan mainan Andy kali ini diwali dengan kekecewaan dan kebingungan, tak lain disebabkan karena Andy yang sudah semakin dewasa, bahkan sudah siap masuk kuliah, semakin jarang bermain dengan mainan-mainannya. Pada akhirnya para mainan harus menghadapi kenyataan pahit: mereka telah dilupakan.

Andy yang sudah siap kuliah kini harus memutuskan apa yang harus dilakukan kepada mainan-mainannya...

Setidaknya itu yang mereka pikirkan ketika Andy memasukkan mereka ke plastik sampah. Semuanya? Kecuali Woody. Koboi Sheriff ini cukup beruntung untuk tetap disimpan oleh Andy.

Dilupakan? Ternyata tidak sepenuhnya. Andy hanya berniat membawa mainan-mainan tersebut ke loteng, untuk disimpan, dan dibuka lagi suatu hari nanti jika beruntung. Sayangnya, kesalahpahaman fatal menyebabkan Ibu Andy membuang plastik berisi mainan tersebut di tong sampah. Merasa dibuang, para mainan ini pun berjuang mati-matian melarikan diri.

(more…)

SALAH KAPRAH GURU PIKET…. June 20, 2010

Posted by planetalaras in Pengalaman Pembelajaran.
Tags:
add a comment

 Santai dikit napa?

Sekolah yang nyaman, belajar yang nyaman, dan suasana kelas yng menyenangkan. Tentu itulah yang diinginkan murid ketika datang ke sekolah. Apalagi jika latar belakang murid kita tidaklah begitu beruntung: kondisi ekonomi yang pas-pasan, broken home, atau lelah mengurus adik yang terlampau banyak.
Dengan latar belakang sedemikian itu, pantaslah jika mereka berharap untuk tidak merasa terbebani ketika bersekolah. Itulah juga yang harusnya saya camkan baik-baik ketika mengajar, atau bahkan untuk tugas lain yang akan saya ceritakan di bawah ini: ketika menjadi guru piket.

(more…)

Wall-E dan Geografi June 19, 2010

Posted by planetalaras in Pengalaman Pembelajaran, Review.
Tags:
1 comment so far

Assalm Wr Wb…

Hal yang saya tahu dengan pasti, “I Love Cartoons!” Yup, dari semua genre film, kartun anak adalah favorit saya. Kenapa? Karena, biasanya, ceritanya menarik, gambarnya indah, memiliki banyak pesan moral,dan: berakhir happy ending!

Yup, dan inilah yang membuat dalam setiap acara nonton dalam kelas, film yang diputar “kebanyakan” adalah fim kartun.

Kenapa? Yah tentu saja karena film genre ini cukup “aman” untuk ditonton oleh anak-nak SMA, tidak ada adegan “tidak senonoh” nya. Juga, karena humor dan pesan moral yang kental di dalamnya. Dua film kartun yang pernah saya putar dalam kelas adalah “Wall-E” dan “Simsons the Movie”.
(more…)

ALKISAH MENJELANG PEMBAGIAN RAPOT…. June 14, 2010

Posted by planetalaras in Pengalaman Pembelajaran, Seharie-harie.
2 comments

Asslamualaikum Ade-adeku sekalian! Apa kabar semua? Baik-baik aja khaannn??? baguuusss… Sudah siap mendengarkan cerita baru dari kakak Laras?

Kalau sudah siap, sini, semua duduk melingkar… Duduk yang manis ya… Kisah kita kali ini berjudul…

ANAK SMA YANG MALAS

Ayo tepuk tangan dulu dong! Plok-plok-plok…..

Alkisah hiduplah seorang anak biasa saja, dengan nama yang biasa saja, di SMA yang biasa saja, kita sebut sja namanya Si Biasa.

Sesuai dengan namanya, anak SMA kelas 10 ini benar-benar biasa saja:

  1. biasa telat
  2. biasa alpa
  3. biasa ga mengerjakan tugas
  4. biasa dapat nilai ulangan jelek
  5. dan.. seperti biasa ga peduli dengan hal-hal di atas!!

Maka di saat menjelang Ulangan Kenaikan Kelas, Si Biasa ini menjadi The Most Wanted Student in the school!!! Why? Ya jelas karena para guru-guru menagih utang-piutang tugas dengan Si Biasa ini….
(more…)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.